diposkan pada : 01-09-2020 16:03:22 sepedaa

Banyak fenomena menarik dan menggembirakan terkait epidemi Covid-19 yang belum bisa tertangani hingga saat ini.Salah satunya adalah bangkitnya kembali budaya bersepeda sebagai sarana olahraga sekaligus transportasi alternatif yang ekonomis, hemat energi, anti polusi dan sekaligus menyehatkan jiwa dan raga.
Tentu saja momen kebangkitan budaya bersepeda tersebut tak boleh disia-siakan begitu saja, dan selayaknya diberdayakan agar bisa terus dilakukan secara berkesinambungan.
Utamanya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang selalu menghadapi permasalahan kemacetan lalu lintas dan polusi udara karena kendaraan bermotor tak boleh telat dalam memanfaatkan momentum emas yang luar biasa tersebut.
Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta pun segera berupaya untuk benar-benar mewujudkan  program "Jakarta Ramah Sepeda" yang sebenarnya sudah digagas sebelum terjadinya pandemi Covid-19 ini.
Seiring dengan semakin hits-nya aktivitas bersepeda di kalangan warganya, maka Pemprov DKI Jakarta segera menggenjot penyelesaian jalur-jalur khusus pesepeda yang memang sudah direncanakan cukup lama.
Pemprov juga meningkatkan penyediaan area-area parkir sepeda di banyak lokasi sekaligus mewajibkan perusahaan-perusahaan swasta untuk juga menyediakan tempat khusus parkir sepeda di area gedung-gedung mereka.
Mumpung Mesra-mesranya
Istilahnya mumpung masyarakat tengah mesra-mesranya dengan sepeda maka keadaan tersebut harus bisa dimaanfaatkan untuk benar-benar mewujudkan impian Jakarta Ramah Sepeda sekaligus membenahi kondisi transportasi yang selalu bermasalah sejak dahulu kala.

Mungkin karena melihat tren bersepeda yang terus meroket secara luar biasa itulah maka tiba-tiba muncul ide gila dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengusulkan adanya jalur sepeda di jalan tol.

Bukan sekedar ide gila semata, usulan tersebut bahkan sudah diajukan kepada menteri PUPR agar menyiapkan satu ruas tol dalam kota, yaitu ruas tol dari Kebon Nanas sampai dengan ke arah Tanjung Priok satu sisi, sebagai jalur yang bisa dimanfaatkan pesepeda khususnya jenis road bike.

Meskipun tengah mesra-mesranya dan demam bersepedaria masih melanda, ternyata usulan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan tersebut mengagetkan banyak kalangan.

Banyak yang secara spontan menganggapnya mengada-ada dan cari perhatian semata.

Apakah tidak ngawur? Lha wong motor saja yang notabene bisa memenuhi persyaratan kecepatan minimal, masih tidak boleh masuk jalan tol, ini Anies malah mengusulkan sepeda masuk tol?

Jika orang biasa jadi bingung, usulan itu juga membuat para pembenci (hater) Anies Baswedan seperti dapat panggung. Nyinyiran-nyinyiran bahwa Anies hanya cari sensasi, cari perhatian, dan tak becus bekerja segera dilontarkan dimana-mana.

Bahkan secara satir para hater Anies menyatakan ide Anies tersebut dilontarkan untuk mengurangi populasi penduduk Indonesia. Secara sarkas bisa dikatakan Anies menginginkan para goweser celaka karena menjadi korban sia-sia di jalan tol.

Bahkan salah seorang kolumnis Eko Kuntadhi secara vulgar mempublilasikan tulisannya yang bertajuk "Pembunuhan Berencana Para Goweser" di dalam media Sirulo Multimedia (26/8). Tulisan ini segera viral dan disukai para pembenci Anies.

Namun benarkah Anies sengawur itu hingga membuat usulan blunder yang membuat dirinya jadi bulan-bulanan ejekan hater? Benarkah Anies Baswedan telah hilang akal hingga berencana mengorbankan para pesepeda untuk dibantai kendaraan-kendaraan roda empat yang melaju kencang di jalan tol?

Ternyata jika dikaji lebih mendalam usulan yang dilontarkan Anies tersebut tidaklah mengada-ada. Jika didalami lebih jeli ada beberapa catatan penting sebagai prasyarat sepeda bisa masuk jalan tol tersebut.

Konsultan politik Eep Saifullah Fatah seperti yang dirilis tilik.id, mencoba mengkonfirmasi usulan Anies Baswedan yang dikeluhkan di atas, ia menemukan beberapa fakta yang ternyata berbeda dengan kekhawatiran para hater di atas.

Pertama, ternyata jalan toll yang diminta dijadikan tempat berkegiatan bersepeda adalah jalan layang toll di atas Jalan DI Panjaitan -- Ahmad Yani (dulu disebut sebagai by-pass).

Kedua, waktunya adalah setiap hari Minggu pukul 06-09 pagi. Dan selama tiga jam itu, jalan layang toll itu ditutup total untuk kendaraan roda empat. Jadi, tak terjadi percampuran antara kendaaraan berkecepatan tinggi dengan para pesepeda.

Ketiga, jalan layang toll itu dibuat untuk mengatasi kemacetan jalan DI Panjaitan -- Ahmad Yani. Berbasis riset, hari Minggu pagi (jam 06-09) tak ada kemacetan di ruas jalan di bawah jalan layang toll itu.

Keempat, alasan pengusulan tersebut adalah Gubernur ingin memberikan kesempatan kepada anak Jakarta, warga Jakarta bersepeda di atas, menyaksikan kotanya dari ketinggian di bawah terang sinar matahari yang baru terbit dari arah timur.

Kelima, ditegaskan bahwa emua proses ke arah itu dijalani dengan proses governance yang terjaga, yang benar. Sejumlah pihak yang terkait pun sudah menyatakan persetujuan bahkan dukungan mereka.

Tentu saja konfirmasi surat pengusulan sepeda melalui jalan toll yang diungkapkan Eep di atas mengkonfirmasi bahwa Anies belum hilang akal dan usulan tersebut sangat masuk akal.

Berkaca Pada Dunia
Sayangnya hingga saat ini usulan sepeda masuk jalan toll tersebut belum mendapatkan tanggapan dari Menteri PUPR. Boleh jadi Menteri PUPR masih menunggu meredanya polemik yang memanas di masyarakat.

Sementara pesepeda masih harus menunggu keputusan dari Menteri PUPR, sebenarnya kenyataan atas adanya jalur sepeda di jalan toll sudah ada di beberapa negara di dunia.

Bahkan jika Anies baru mengusulkan agar ada pengaturan sementara jalan toll untuk sepeda, beberapa negara justru telah menyediakan 'jalan tol' khusus pesepeda.

Mereka membangun jalur-jalur khusus bebas hambatan yang terpisah dari jalur kendaraan bermotor, sehingga mampu menjamin keamanan dan kenyamanan pesepeda.

Sebut saja diantara negara itu ada negara Denmark, Belanda, Jerman dan China. Jika kita melihat fasilitas yang disediakan pemerintah negara tersebut bagi pesepeda, kita akan melihat bahwa yang diusulkan Anies Baswedan belum ada apa-apanya.

Karena itu jangan terburu-buru menghakimi dan berprasangka buruk terhadap sebuah usulan yang dikemukakan tokoh atau orang lain meskipun kita kurang menyukai sosoknya karena perbedaan politik yang ada.
Sekarang adalah kesempatan emas bagi Indonesia untuk memaksimalkan budaya bersepeda pada masyarakat melalui peningkatan fasilitas bersepeda yang bagus.Sekali lagi mumpung masyarakat tengah mesra-mesra dengan sepeda maka momentum ini harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk membangun sistem transportasi alternatif yang sehat, peduli lingkungan dan ekonomis.

Sungguh akan terasa janggal jika masyarakat dunia tengah terkesima oleh gairah belanja sepeda masyarakat Indonesia yang menggila, hingga mampu membuat produsen Brompton terenggah-enggah dalam memenuhi pesanan dari Indonesia. Namun sarana dan prasarana bersepeda yang ada masih carut-marut dan kurang layak.

Semoga tren bersepeda yang ada sekarang terus berkembang dan memjadi bibit pembangunan transportasi sehat dan peka lingkungan di masa depan perkotaan Indonesia. Tabik.